FDR Radio Summit 2025 menjadi momentum penting dalam kebangkitan industri radio Indonesia di tengah derasnya arus digitalisasi.
FDR Radio Summit 2025 kembali menegaskan bahwa radio masih menjadi medium strategis dalam penyebaran konten kreatif, terutama bagi daerah yang belum terjangkau layanan internet.
Di saat banyak orang mengira radio mulai ditinggalkan, data menunjukkan sebaliknya: 16 juta pendengar masih aktif menikmati siaran radio setiap hari di 10 kota besar Indonesia.
FDR Radio Summit 2025 juga menghadirkan pernyataan tegas dari Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenkraf) melalui Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya.
Menurutnya, radio kini harus dipandang sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang terus berkembang, bukan sebagai medium tradisional yang tertinggal.
“Radio tidak lagi dipandang sebagai medium tradisional, tetapi bagian penting dari ekonomi kreatif yang harus mampu mengembangkan model bisnis baru di era digital. Kementerian Ekonomi Kreatif berkomitmen mendukung penguatan industri radio agar tetap relevan, berdaya saing, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif dari daerah,” kata Menteri Ekraf Teuku Riefky pada Sabtu (15/11/2025).
Data 16 juta pendengar radio yang dirangkum Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) itu menjadi bukti bahwa radio masih relevan.
Untuk itu PRSSNI dan Forum Diskusi Radio (FDR) serta dukungan dari Kementerian Ekraf menggelar Radio Summit XVII 2025 sebagai wadah mempertemukan pelaku industri radio dari berbagai daerah, pengiklan, akademisi, dan regulator.
FDR Radio Summit 2025 yang digelar di Hotel 101 Kebon Sirih, Jakarta Pusat, menjadi wadah berkumpulnya pelaku industri radio dari berbagai daerah. Acara ini diselenggarakan oleh Forum Diskusi Radio (FDR) bersama Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) dengan dukungan penuh Kemenkraf.
Pada FDR Radio Summit 2025, data PRSSNI kembali ditegaskan: radio masih memiliki daya tarik kuat dengan belanja iklan yang menembus Rp 750 miliar per tahun. Angka ini menunjukkan bahwa radio tetap memiliki nilai ekonomi konkret meski persaingan dengan media digital semakin ketat.
Deputi Bidang Kreativitas Media Kemenkraf, Agustini Rahayu, menyampaikan bahwa FDR Radio Summit 2025 harus menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor agar industri radio semakin adaptif.
“Radio Summit ke-18 harus menjadi momentum kebangkitan radio nasional. Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi agar industri radio tetap relevan, tangguh, dan mampu beradaptasi di era digital,” katanya.
FDR Radio Summit 2025 tidak hanya membahas data dan strategi, tetapi juga mengangkat kembali peran historis radio di Indonesia. Radio telah menjadi bagian dari perjalanan bangsa sejak masa awal kemerdekaan, menjadi saluran informasi utama, alat komunikasi darurat saat bencana, hingga ruang pelestarian budaya lokal.
Di banyak daerah yang belum terjangkau internet, radio masih menjadi sumber informasi paling dapat diandalkan. Musik lokal, bahasa daerah, dan cerita rakyat yang disiarkan radio menjaga identitas budaya tetap hidup. Fakta-fakta inilah yang kembali disorot dalam FDR Radio Summit 2025.
Ketua PRSSNI, M Rafik, menegaskan bahwa kekuatan radio tidak terletak pada teknologinya saja, tetapi pada kedekatannya dengan masyarakat.
“Kolaborasi adalah kunci. Bersama saja belum tentu mudah, apalagi jika berjalan sendiri. Tapi dengan sinergi antar stasiun radio, asosiasi, dan pelaku kreatif, kita bisa menjadikan radio sebagai kekuatan ekonomi baru,” ujar M Rafik.
FDR Radio Summit 2025 juga membahas tantangan besar yang kini membayangi industri radio: perubahan kebiasaan konsumsi media di kalangan anak muda. Kini, podcast, platform streaming, dan konten video pendek lebih sering dipilih generasi muda dibandingkan siaran radio tradisional.
Pergeseran belanja iklan menuju platform digital juga menjadi tantangan lain yang harus dihadapi. Karena itu, FDR Radio Summit 2025 menekankan pentingnya inovasi konten, integrasi teknologi, hingga pemanfaatan platform sosial untuk memperluas jangkauan pendengar.
Namun, radio memiliki kekuatan yang tidak dimiliki media digital lain: kontinuitas, kedekatan humanis, dan interaksi real-time. Inilah nilai khas yang terus dipertahankan dan dikembangkan melalui diskusi-diskusi dalam FDR Radio Summit 2025.
Di tengah derasnya dominasi platform digital, FDR Radio Summit 2025 menunjukkan bahwa radio belum tergeser. Dengan pendengar yang tetap besar, inovasi konten yang terus tumbuh, serta dukungan pemerintah dan asosiasi, radio melangkah ke masa depan dengan optimisme baru.
FDR Radio Summit 2025 bukan hanya pertemuan industri tetapi sebuah deklarasi bahwa radio tetap hidup, relevan, dan siap bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi kreatif modern.