Suasana haru menyelimuti prosesi wisuda Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) saat Rektor Profesor Intiyas Utami menghampiri lulusan dan memberi pertanyaan siapa superhero kalian sampai ada di tempai ini sekarang.
Pertanyaan sederhana ini membuka deretan kisah perjuangan di balik toga yang dikenakan 642 lulusan. Kisah tentang orang terkasih yang menjadi penyemangat, sumber inspirasi, sumber kekuatan ketika rasa ingin menyerah menghampiri di tengah tumpukan tugas atau tugas akhir, dan doa yang tidak putus dari orang terkasih yang mengantarkan mereka sampai di titik kelulusan.
Salah satu momen menyentuh datang dari Susi Purwandari, lulusan Program Studi Magister Administrasi Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Perempuan asal kabupaten Semarang ini menyebut sosok superhero dalam hidupnya adalah suami dan anak-anaknya.
“Terima kasih sayang untuk ijin dan rida-nya,” kata Susi Purwandari yang juga meraih Indeks Prestasi Tertinggi (IPT) 4.00. Suasana semakin hangat saat memberikan sebatang coklat sebagai tanda kasih kepada suaminya.
Momen haru berlanjut saat Rektor Intiyas kembali bertanya kepada para lulusan, apakah ada diantara lulusan yang superhero mereka sudah kembali kepada Sang Pencipta. Yosef Yukianus Jekson Bali, lulusan Fakultas Hukum memberanikan diri menjawab. Dengan suara bergetar, pria asal Nias ini menyebut selain Tuhan, superhero baginya adalah Ayah yang telah berpulang dua tahun lalu.
Tanpa menunggu lama, Rektor Intiyas mengajak Yosef menghampiri sang ibu. Tangis sang ibu pecah saat Yosef memeluknya erat sebagai ungkapan terima kasih atas doa yang tak pernah putus.
Tak kalah menyentuh, Kristina Rice Venia Seo lulusan Fakultas Teologi juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada superhero versinya, yakni sang ibu yang telah berpulang. Meski tak lagi hadir secara fisik, kasih sayang sang ibu terus mengalir dan menjadi kekuatan hingga ia mampu menyelesaikan perkuliahan.
“Terima kasih mama. Walaupun mama sudah tidak ada, kasih sayang mama selalu mengalir dalam kehidupan saya sampai saya bisa menyelesaikan perkuliahan ini,” ucap perempuan asal Mahakam Ulu, Kalimantan Timur ini.
Melihat rangkaian momen tersebut, Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami menegaskan bahwa keberhasilan para lulusan bukanlah hasil perjuangan seorang diri.
“Dalam setiap langkah kalian ada doa yang dipintal dan dirajut penuh kasih. Sejak kecil sampai hari ini doa ibu tidak pernah terputus dan selalu hadir untuk kalian,” ujarnya.
Sebagai seorang ibu, Rektor Intiyas juga mengungkapkan rasa syukurnya karena putrinya juga turut diwisuda pada hari yang sama.
“Jangan pernah lupa doa ibu dan perjuangan ayah. Toga yang kalian kenakan hari ini adalah bukti perjuangan panjang berkat dukungan orang-orang yang mencintai kalian. Enam ratus empat puluh dua creative minority bisa berada di titik ini bukan karena usaha sendiri, tetapi karena ada superhero yang memberi semangat dan dukungan, orang tua, sahabat, dan orang-orang terkasih,” tuturnya.
Wisuda UKSW kali ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan perayaan penuh makna tentang perjuangan, cinta, dan doa yang mengiringi setiap langkah lulusan menuju masa depan. Kisah para “superhero” di balik toga menjadi pengingat bahwa kesuksesan sejati lahir dari kerja keras yang disertai dukungan tanpa henti dari orang-orang yang mencintai kita.
Wisuda Periode I Tahun 2026 menegaskan kiprah UKSW dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yakni ke-4 pendidikan berkualitas. Wisuda ini juga menjadi wujud nyata komitmen UKSW terhadap program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Berdampak yang selaras dengan Asta Cita 4 yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, dan pendidikan.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 37 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. Salam Satu Hati UKSW!